Loading...

Gorontalo, Tutup Tahun Rayakan Panen Padi

07:43 WIB | Thursday, 21-December-2017 | Nusantara | Penulis : Gesha

 

Panen menjelang tutup tahun hampir merata di seluruh kabupaten di Indonesia. Tahun ini kekuatiran paceklik yang membuat pasokan pangan berkurang seperti dapat terlewati. Seperti terjadi di Gorontalo.

 

Hamparan sawah terlihat menguning di sepanjang desa di Provinsi Gorontalo, menandakan padi sudah siap panen hingga awal tahun 2018 mendatang. Beberapa desa di Kabupaten Gorontalo dan Bone Bolango sudah mulai panen. Seperti di Desa Bulotalangi Barat, Kecamatan Bulango Timur, Kabupaten Bone Bolango, telah ada panen sekitar 219 ha.

 

Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Siti Munifah berkesempatan melakukan panen bersama Dinas Pertanian Provinsi, Dinas Pertanian Kabupaten, Dandim 1304 Gorontalo, Koramil, Babinsa, BPS, Camat, BP3K, Penyuluh, Peneliti, Pengamat hama, pengurus dan anggota kelompok tani Tekad selaku pemilik lahan, Rabu (20/12).

 

Dengan produktivitas sebanyak 6.5 ton/ha, diperkirakan produksi GKP di Desa Bulotalangi Barat bisa mencapai 1.900 ton atau setara dengan 950 ton beras.  Kepala BPTP Provinsi Gorontalo, Awaludin Hipotesis mengatakan, Desa Bulotalangi merupakan salah satu sentra produksi beras di Bone Bolango. Sentra lain yang sudah panen adalah Desa Motilango, Desa Iloheluma, dan Desa Bongopini Kabupaten Bone Bolango, dan di Desa Sidodadi Kabupaten Gorontalo.

 

Dalam waktu dekat, panen juga akan ada di Desa Toluwaya, Kec Bulango Timur Bone Bulango dan Desa Bangun Rejo, Kec. Boliohuto, Kabupaten Gorontalo. "Selain itu di Kab. Gorontalo panen juga ada di kecamatan Boyoongko kecamatan Tolanghola, Kecamatan Asparaga dan kecamatan Limboto barat dan Bolinuangga," tambah Awaludin. 

 

Sekretaris Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Gorontalo, Relianto Mamonto mengungkapkan, luasan lahan padi sawah di Kab. Bone Bolango mencapai 2.221 ha. Beberapa desa diantaranya mengandalkan irigasi seperti Irigasi Lomaya dan Irigasi Alale. 

 

Sementara yang lainnya merupakan sawah tadah hujan seperti arah timur Kab. Bone Bolango dan arah barat Kab. Gorontalo. Pemprov sendiri tengah mempersiapkan Bendungan Bulango Hulu untuk mengubah lahan tadah hujan menjadi lahan irigasi sehingga meningkatkan indeks pertanaman menjadi 3 kali dalam setahun. 

 

Dampingi Teknologi

 

Petani di Gorontalo hingga sekarang hanya mengenal dua musim tanam yaitu musim gadu dan musim rendeng. Belum lagi penggunaan varietas jaman dulu seperti Ciherang menjadikan produktivitas hasil yang semakin menurun. Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian sekaligus Upsus Provinsi Gorontalo, Siti Munifah meminta, petani tak perlu takut untuk berpindah varietas turunan Ciherang seperti Inpari 32, Inpari 30 maupun Inpari 41. Sebab  varietas tersebut sudah terbukti tahan hama penyakit sekaligus produktivitas tinggi.

 

"Inpari-Inpari itu semua anak cucunya Ciherang. Varietas ini sudah pastinya punya keunggulan lebih dibandingkan orangtuanya (Ciherang)," tutur Siti Munifah. Nah,untuk menarik sekaligus diseminasi teknologi peningkatan produktivitas, BPTP Gorontalo pun mengenalkan dalam bentuk demfarm seluas 10 ha di Desa Bulotalangi Barat dengan menggunakan varietas Inpari 33. Berdasarkan hasil ubinan, varietas ini mampu menghasilkan produksi sebanyak 5.3 ton sampai 6.5 ton per ha. 

 

Tak hanya bentuk denfarm, pendampingan teknologi seperti inovasi Jarwo Super yang terdiri dari sistem budidaya jajar legowo ditambah komponen teknologi lainnya seperti penggunaan varietas unggul baru (Inpari 30 dan Inpari 33). Selain itu, penggunaan biodekomposer jerami, pupuk hayati untuk benih, pengendalian hama penyakit dengan pestisida nabati dan anorganik berdasarkan ambang kendali, hingga penggunaan alsintan. Gsh/Yul

 

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162