Loading...

Empat Skema Harga Gabah untuk Bulog

14:16 WIB | Tuesday, 06-February-2018 | Nasional | Penulis : Ahmad Soim

Lagi-lagi beras menjadi komoditi yang tersandera karena laju inflasi.  Laju inflasi pada Januari 2018 tercatat sebesar 0,62 persen dan  BPS  mencatat beras menyumbangkan kontribusi sebesar 0,24 persen. Faktor utamanya adalah harga beras di pasar dan penggilingan naik.

 

Data laju inflasi ini seperti tidak bisa terbantahkan, hal itu bisa dipastikan terjadi disebabkan harga beras naik karena pasokannya yang berkurang. Meskipun Kementerian Pertanian sudah meyakinkan bahwa pasokan beras cukup, namun Pemerintah tetap membuka impor beras 500 ribu ton untuk stabilisasi harga beras.

 

Data dari Kementerian Pertanian menunjukkan ketersediaan beras nasional selama Januari-Maret 2018 cukup untuk memenuhi kebutuhan beras nasional. Produksi padi nasional sebesar 2,8 juta ton (Januari); 5,4 juta ton (Februari); dan 7,4 juta ton (Maret). 

 

Dengan angka konsumsi beras per bulan 2,5 juta ton, dapat dipastikan tiga bulan kedepan kita mengalami surplus beras.  Angka surplus beras  per bulan dari Januari-Maret 2018, adalah Januari surplus 329 ribu ton; Februari 2,9 juta ton, dan Maret 4,97 juta ton.

 

Angka tersebut diperoleh Kementan berdasarkan proyeksi luas panen selama Januari-Maret 2018 secara  berturut-turut, Januari (854 ribu ha); Februari (1,6 juta ha); dan Maret (2,25 juta ha).

 

Kementan pun meminta agar Bulog pro-aktif menyerap beras petani. Kementan mengusulkan empat skema harga agar Bulog bisa menyerap produksi gabah dan beras petani yang melimpah. Empat skema harga ini sudah disetujui pemerintah dalam rapat koordinasi terbatas (rakortas) bidang perekonomian.

 

Pertama, Bulog menyerap beras dengan kualitas di bawah standar dengan harga lebih murah dibanding Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Beras di bawah standar adalah beras yang memiliki kandungan air 30 persen.

 

Kedua, Bulog menyerap beras dengan harga sesuai HPP. Ketiga, Bulog menyerap beras dengan harga fleksibilitas 10 persen di atas HPP. Beras ini akan dijual Bulog dengan harga komersial.

 

Keempat, bila harga gabah atau beras di lapangan masih saja di atas 10 persen HPP, maka Bulog bisa menyerap beras komersial. Beras komersial Bulog tidak masuk dalam Cadangan Beras Pemerintah (BCP), dan dijual secara komersial.

 

 Mendasarkan rendahnya produksi beras nasional dari cadangan beras pemerintah yang bisa diserap oleh Bulog sangatlah riskan, karena ada banyak faktor yang mempengaruhi. Bulog harus berupaya secara maksimal untuk menyerap gabah dan beras petani. Regulasi tentang harga beras bagi Bulog pun perlu diperhatikan. Apalagi HPP untuk gabah dan beras dalam beberapa tahun terakhir tidak mengalami kenaikan.

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162